Harga Melambung Sifat Konsumtif Menjelang Ramadhan

Harga Melambung Sifat Konsumtif Menjelang RamadhanKonsumtif Jelang Idul Fitri Hari-hari di bulan Ramadhan merupakan hari-hari istimewa bagi setiap pribadi muslim. Pada hari-hari Ramadhan, pribadi muslim dilatih untuk bisa menahan segala keinginan hawa nafsunya dan lebih banyak mendekatkan diri kepada Allah SWT, sehingga pada akhir Ramadhan nanti atau Idul fitri, diharapkan terbentuk pribadi muslim yang bertakwa.

minyak-goreng-1
Tetapi dalam kenyataannya, umat Islam suka lupa akan tujuan utama dari adanya bulan Ramadhan ini. Hari-hari istimewa di bulan Ramadhan yang seharusnya menjadi momen untuk berkaca diri dan menahan hawa nafsu, malah digunakan untuk memenuhi berbagai tuntutan dan keinginan diri. Mengkonsumsi sebenarnya merupakan kegiatan yang wajar. Namun disadari atau tidak,harga Tiket Taman Bunga Nusantara masyarakat tidak hanya mengkonsumsi tapi telah terjebak ke dalam budaya konsumerisme.

Harga Melambung Sifat Konsumtif Menjelang Ramadhan

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan agar kita tidak ikut larut dalam budaya konsumerisme, yaitu :
1. Berhematlah pada apa yang dianggap paling penting, walau itu berarti tampak tidak hemat dari sudut pandang lain. Berhemat artinya memaksimalkan manfaat untuk hal yang paling penting dan prioritas.
2. Carilah harga Tiket Taman Bunga Nusantara harga yang relatif murah untuk manfaat utama yang sama. Hemat dalam hal ini adalah berusaha mendapatkan manfaat maksimal dari biaya minimal (benefit cost ratio).
3. Jadikan “cashflow” keuangan sebagai patokan utama, jangan mengkonsumsi sesuatu di luar kemampuan dan dana.
Budaya konsumerisme jelas-jelas berbahaya. Oleh karena itu kita wajib menghindarinya. Terlebih lagi, di akhir Ramadhan, umat Islam akan menghadapi hari kemenangan, Idul Fitri. Yaitu hari di mana individu-individu muslim kembali kepada fitroh setelah sebulan penuh dilatih untuk mengendalikan diri. Sudah menjadi tradisi dalam setiap Idul Fitri, umat Islam merayakannya dengan penuh suka cita karena tidak boleh ada kesedihan dan juga tidak boleh bersikap konsumtif.[]
2. Lemahnya Antisipasi Kenaikan Harga Saat Ramadhan
Kenaikan harga pokok saat lebaran ini polanya sudah berulang-ulang tiap tahun, apakah pemerintah tidak bisa mengantisipasi hal tersebut, strategi pemerintah tiap tahun selalu sama, yakni operasi pasar. Tahun ini, pemerintah menyediakan stok beras 500.000 ton untuk operasi pasar.

Jika stok Bulog tidak mencukupi, pemerintah pun memutuskan untuk impor, padahal kita ini adalah terkenal dengan swasembada beras. Kalau terus berulang dan tidak ada solusi, berarti pemerintah telah kalah dengan pasar serta pemerintah tidak mau serius untuk meredam kenaikan harga pokok ini.

Jangan lupa pula, melambungnya harga bahan kebutuhan pokok juga akibat buruk infrastruktur. Saluran distribusi terganggu karena banyak jalan yang berlobang dan tidak terawat serta naiknya harga BBM sehingga biaya produksi naik. Siapa yang menanggung kenaikan biaya tersebut? Tentunya konsumen yang posisi tawarnya lemah. Pemerintah sebenarnarnya sudah sabar betul.

Namun, sampai saat ini langkah konkritnya masih dipertanyakan. Pemerintah sibuk dengan hal-hal yang tidak penting, seharusnya pemerintah memiliki jurus pamungkas untuk meredam kenaikan harga di bulan Ramadhan ini sehingga melonjatnya harga dapat di seimbangkan untuk kesejahteraan rakyat kecil.

Ketika bulan Ramadhan datang, bukankah seharusnya komsumsi kebutuhan pokok berkurang. Tetapi, hal tersebut tidak terjadi pada masyarakat kita. Berdasarkan riset Nielsen, selama bulan puasa, belanja konsumen kelas bawah justru naik 30% sementara kelas menengah naik 16%. Sikap konsumen tersebut tentunya mempengaruhi harga. Konsumsi tersebut seharusnya dapat dikendalikan.

Advertisements